Showing posts with label surabaya. Show all posts
Showing posts with label surabaya. Show all posts

Tuesday, March 3, 2015

Stasiun Mesigit, Tersembunyi Kumuh dari Hingar Bingar Kota

Siang hari cerah itu, entah kenapa saya mendadak teringat kenangan masa kecil; sebuah kenangan yang mungkin tak akan terulang kembali saat ini. Romantisme saya dan kereta api, yang sudah sejak kecil melekat di diri saya. Terpatri begitu kuat hingga sekarang - yang menjadikan saya betah berjam-jam browsing dan melihat masa jaya kereta api berpuluh tahun lalu. (Oh, thanks google! You make me remember it all!).

Saya mendadak tertarik dengan sebuah tempat dalam browsingan saya. Tempat yang sebetulnya enggak jauh-jauh amat dari rumah saya, sama-sama di Surabaya, tapi bahkan mungkin banyak yang belum tahu: Stasiun Mesigit.

Ya, Stasiun Mesigit. Siapa sangka Surabaya punya stasiun tersembunyi seperti Mesigit. Siapa sangka bahwa di tengah pemukiman kumuh daerah Dupak, Surabaya - yang mayoritas dihuni secara berhimpit-himpitan - terdapat stasiun yang tugasnya penting: untuk mengontrol dan mengatur jalur dari tiga persimpangan stasiun besar: Surabaya Pasarturi, Surabaya Kota, dan Sidotopo yang saling bertemu di sebuah lokasi yang dinamakan Segitiga Mesigit.


Stasiun Mesigit (MST) di era Kolonial Belanda, tampak dulunya adalah sebuah stasiun kelas II (Sumber foto tertulis - Universitas Leiden Belanda)

Stasiun Mesigit dulu juga melayani pemberhentian penumpang, lain kali akan saya tunjukkan bekas karcis kereta dengan tujuan Kalimas-Gresikkota. Stasiun yang berkode MST ini dulunya merupakan stasiun pulau dimana bangunan stasiun berada di tengah-tengah jalur rel. Ke arah selatan adalah jalur milik maskapai NIS (Nederlands Indische Spoorweg), sedangkan ke arah utara dan timur adalah jalur menuju Kalimas dan Surabaya Kota/Sidotopo milik maskapai Staatsspoorwegen (SS). Tidak jelas bagaimana pengaturan jalur dari Stasiun Mesigit ketika itu karena saya sejauh ini tidak menemukan data otentik bagaimana dua maskapai dapat disatukan dalam satu stasiun.

Berdasarkan data yang saya peroleh, ternyata emplasemen Stasiun Mesigit masa itu cukup lebar dengan 4 jalur. Kereta api yang melintas umumnya kereta api barang dengan tujuan akhir Pelabuhan Tanjung Perak via Kalimas berupa angkutan minyak, pupuk, dan logistik. Ini cukup dimaklumi karena ketika itu jalur menuju pelabuhan banyak sekali dan tiap maskapai kapal dan perusahaan pelabuhan punya rel sendiri.

Saya berkesempatan mengunjungi stasiun ini di pertengahan 2014 bersama sesama pecinta kereta api. Sebelumnya, saya memang sudah memperoleh gambaran bahwa keadaan di stasiun ini sudah mengenaskan dimana bangunan utamanya sudah menjadi rumah penduduk dan stasiun baru dibangun di sisi selatan bangunan asli Stasiun Mesigit.


Rel masuk Stasiun Mesigit dari arah Surabaya Pasarturi (Sumber foto: Istimewa)

Sebenernya untuk masuk kesana butuh kesabaran dan kehati-hatian ekstra mengingat lokasi stasiun ini ada di pemukiman kumuh dan kawasan 'merah' Kota Surabaya. Bahkan ketika kami memotret beberapa sisi stasiun ini, banyak mata memandang sinis dan tak bersahabat. Untunglah kami diijinkan masuk oleh PPKA Stasiun yang baik hati.

Kedatangan Kereta Api dari Surabaya Pasarturi ke Kalimas

Saat ini, Stasiun Mesigit hanya melayani persilangan KA dan mengontrol rute jalur masuk-keluar KA yang menuju ke Kalimas, Surabaya Pasarturi, dan Surabaya Kota/Sidotopo. Pos pengontrolan juga dibangun di Segitiga Mesigit yang ada sebelum viaduk Tugu Pahlawan dari arah Surabaya Kota (di samping Gedung Kantor Gubernur Jatim).

Sinyal keluar dan jalur 2 (jalur belok) Stasiun Mesigit. Kumuh memang, karena lokasi ini adalah lokasi 'merah' di Surabaya. Nantinya rel arah lurus ini akan menuju Stasiun Pasarturi dengan membelah Pusat Grosir Surabaya melalui terowongan

Papan nama stasiun ini pun cukup kecil dan hampir tak terlihat - yang membuat orang sukar untuk mencari. Tetapi, bangunan stasiun masih asli walaupun tak terpakai. Namun sayang foto di saya masih belum ketemu, nanti kalo udah saya edit post deh :))

Pesan saya sih kalo mau mengunjungi stasiun ini, jangan memakai atau menggunakan benda-benda yang mencolok, karena bahkan masinis pun jika berhenti di sini masih khawatir tentang keamanannya. Pastikan selalu safe visit dan safe hunting bagi yang mau mengabadikan momen di sini ya..

Tuesday, February 3, 2015

Penumpang yang tak Akan Pernah Kembali Lagi...

Langit mendung siang itu membawa saya pada sebuah rencana menarik. Saya yang pada dasarnya suka sejarah sama sekali tak menolak ketika salah satu teman saya mengajak untuk menelusuri jalur-jalur sisa kejayaan trem uap Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS).

Namun karena saya udah terlalu mainstream dengan peninggalan trem uap OJS maupun trem listrik yang ada di Surabaya (nanti kapan-kapan saya ulas di sini), saya lantas mengusulkan bagaimana kalo menelusuri lintas OJS yang lain - yang sama-sama start dari stasiun Wonokromo Kota (WOK).

Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) sendiri adalah salah satu maskapai kereta api swasta di era Hindia Belanda yang memposisikan diri sebagai maskapai kereta ringan sejenis trem. OJS memulai bisnisnya di Surabaya, di tengah adanya dua raksasa maskapai besar ketika itu, Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan Staats Spoorwegen (SS).

OJS memperoleh konsesi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jaringan rel kereta api/trem dalam kota di akhir abad ke-19. Hingga akhirnya OJS berhasil menjalankan 5 lijn trem listrik dan 2 lijn trem uap di Kota Surabaya. Trayek paling populer tentu saja trayek trem uap antara Wonokromo Kota (WOK) ke Ujung (UJ) yang bahkan masih beroperasi di akhir tahun 1970.

Peta jaringan rel OJS (courtessy: penelusurrelmati.wordpress.com)
Selain itu, OJS juga membangun jaringan ke luar Kota Surabaya, yakni angkutan Wonokromo Kota ke Plosso via Krian. Tentunya masih sekelas trem uap dengan loko mallet type B khas OJS. Berbentuk kotak dan berukuran kecil sehingga mampu melewati rel untuk tekanan gandar rendah. Selain angkutan campuran tersebut juga dijalankan angkutan material pasir yang terutama dibawa dari daerah sekitar Kali Brantas di Lespadangan, Mojokerto maupun di sekitar Perning.

Perjalanan saya sampailah di Stasiun Perning. Bekas stasiun berkode PEN ini letaknya agak tersembunyi dari jalan raya yang membelah dari Ploso hingga ke Gunungsari, Surabaya. Saya sengaja memilih menjelajahi Stasiun Perning karena di sini dulunya sering digunakan sebagai bongkar muat material pasir dan ada gerbong yang sampai sekarang 'nyangkut' di bekas jalur menuju Perning.

Dulunya jalan ini rel menuju Perning :))

Dari jalan raya yang membelah 3 kabupaten dan menghubungkan ke Surabaya itu saya berbelok ke kiri, mengikuti arah plang yang telah dipasang PT KAI. Setelah berjalan lewat jalan tanah beberapa ratus meter, saya menemukan letak stasiunnya. Hmm, terasa asri dan tenang..

Bekas stasiunnya masih berdiri walaupun keropos di sana sini

Karena jalur ini ditutup setelah beberapa tahun OJS bangkrut dan menyerahkan segala asetnya kepada PT KAI, maka sisa-sisa jalur masih dapat ditemui dengan mudah. Saya juga menemukan bahwa stasiun ini telah dipasang plakat plat milik KAI


Saya menerawang jauh, membayangkan dulunya disini banyak penumpang dengan segala kesibukannya, dengan segala bawaannya, lalu lalang. Ada yang berlari-lari gara-gara hampir ketinggalan kereta, ada yang menduduki karung berisi barang bawaannya, ada yang mengantre membeli tiket, sungguh pesona memori yang indah...

Dulu, di sini ramai, banyak orang menunggu...
Hari beranjak akan hujan ketika saya terus bernostalgia dengan memori di stasiun trem yang dulunya ramai ini. Gerimis mulai turun ketika saya akan beranjak meninggalkan tempat ini. Rasanya berat, tapi saya harus pergi...

Dan ketika saya beranjak pergi, sebuah benda unik tampak di depan saya...

Gerbong TR di antara sawah
Voila! Apa ini? Tadinya saya kira cuman besi biasa, tapi jika diperhatikan, ternyata sebuah gerbong! Ya, gerbong yang tertinggal. Gerbong TR dua gandar yang khas sekali. Bekas gerbong pengangkut pasir, sehingga terbuktilah bahwa jalur ini dulu juga dilalui trem yang mengangkut pasir..

Sisa kejayaan trem OJS, merenung menyendiri di hari tuanya..
Saya bisa berucap masih beruntung gerbong ini tergeletak di sini. Masih beruntung tidak semua bagiannya dipreteli. Dan saya terkejut, ternyata di bagian bawah gerbong ini masih terlihat tulisan kapan terakhir diservis. Namun sayang sekali saya nggak bisa motret karena hari perlahan mulai turun hujan. Tulisannya berbunyi seperti ini:

PA BY TG 23-06-1973
PA YAD 23-06-1978

Artinya adalah, gerbong mengalami pemeliharaan terakhir pada 23 Juni 1973 di Balai Yasa Tegal. Ini berarti pula bahwa gerbong ini masih berjalan dengan normal di tahun 1973 sebelum jalurnya ditutup tahun 1978 karena dianggap tidak menguntungkan PJKA ketika itu.

Sebenarnya ada lagi satu peninggalan yang saya dapatkan di sekitar tempat ini. Fotonya ada di bawah, namun karena hari mulai hujan deras, maka saya akhiri dengan terpaksa penjelajahan ini. Semoga masih dapat menjelajah lebih jauh di kesempatan yang lain deh! :))

Bekas jembatan lengkap dengan rel-nya sekarang digunakan warga untuk keperluan sehari-hari



Saturday, March 1, 2014

Berburu Peninggalan Belanda di Sidotopo

Hai, akhirnya saya nulis lagi hehe. Ada satu hal yang menggelitik telinga saya bahwa seorang teman berhasil menemukan beberapa footage langka jaman Belanda di sekitaran Sidotopo. Saya yang awalnya skeptis, yang menganggap bahwa memang lokasi stasiun dan dipo Sidotopo itu adalah awalnya memang bangunan eks Belanda menjadi tertantang untuk menemukan hal yang lain, yang saya rasa tidak semua orang ngeh kalo itu barang langka.

Berbekal kamera seadanya, sore itu berangkatlah saya ke stasiun terbesar se-Jawa Timur (atau bahkan se-Indonesia) itu. Kalo lihat gerbong bekas ditumpuk atau rel yang bertuliskan tahun 1800-an sih sudah sering. Hari itu saya benar-benar bertekad untuk menemukan sesuatu yang lain, yang bisa saya share juga hehe...

Tetapi ketika akan mencari parkir, saya tergerak dan tertarik dengan beberapa loko BB301 yang mangkrak (sepertinya menunggu untuk di-besituakan). Bukan apa-apa sih, kok sepertinya tertarik aja, entah intuisi saya yang tiba-tiba naik, atau apalah, yang jelas loko-loko BB301 yang dipajang di sana memang kebanyakan eks PLH alias kecelakaan hebat, yang menyebabkan loko-loko itu tidak dapat dipakai lagi.

Tersembunyi di rerumputan, lok BB30121 ini pernah mengalami kecelakaan hebat di Sengon beberapa tahun silam yang menyebabkan masinisnya meninggal dunia
Bagi sebagian orang mungkin lumayan ngeri, tapi saya penasaran. Bagi saya, lok-lok mati itu menatap kosong, seakan menunggu waktunya dipreteli untuk kemudian besinya dijual terpisah. Yah, itulah kebijakan perusahaan yang terkadang bagi orang awam seperti saya, hal ini dianggap salah. Atau mungkin malah sebaliknya...

Tak butuh waktu lama saya berburu peninggalan Belanda yang saya cari-cari. Setelah puas (sebenernya belom) melihat-lihat loko-loko mati yang sudah tak berdaya itu, mata saya tertuju pada sebuah lampu kuno di sebelah masjid dipo stasiun. Lampu yang tidak pada jamannya karena secara bentuk terlihat lampu seperti jaman pertengahan. Dan ketika saya mengamati sejengkal demi sejengkal lampu tersebut....

Dari tulisan yang ada di bawah tiang lampu, sudah sangat jelas ini lampu buatan eropa :D
Voila! Nama orang eropa, entah Belanda entah Jerman, yang jelas nama-namanya rumpun Jerman. Tetapi setelah saya googling, saya menemukan bahwa pembuatnya adalah Lion Israel Enthoven! Sebuah perusahaan kaya abad pertengahan, yang produknya adalah jembatan, jaringan rel kereta api, penutup lobang got. Oleh Pemerintah Hindia Belanda, L I Enthoven disewa untuk membuat lampu penerangan berbasis gas di seluruh wilayah kota Batavia dan Surabaya pada akhir 1890-an.

Bukan hanya itu, ternyata Enthoven ini juga tahun 1867 mengambil bagian dalam Pameran Produk Dunia di Paris dan mengandalkan sebuah produk mimbar yang terbuat dari baja. Mimbar itu sekarang disimpan dan dalam kepemilikan Rijksmuseum di Deventer, Belanda.

Luar biasa, tapi sayang tiang lampu (yang mungkin sudah langka di dunia) itu terkesan dibiarkan dan tak terawat. Itulah mengapa saya tak mengambil foto lampu secara utuh, sebagai langkah preventif agar tangan-tangan jahil tidak mengotak-atik benda bersejarah tinggi ini.

Saya pulang dengan segudang pemikiran di kepala saya, jika tiang lampu seperti itu (berbahan bakar gas) mampu menerangi sudut-sudut Kota Surabaya di masa itu, betapa cozzy-nya Surabaya di masa pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi ah, masa bodoh. Matahari sudah condong jauh ke arah barat, saatnya pulang!

Sunday, February 16, 2014

Long Day at Benowo: Stasiun Paling Barat di Kota Surabaya

Siang itu ditemani langit cerah, saya iseng untuk sowan teman lama di Benowo, sekaligus mampir ke stasiun terminus di barat Surabaya. Memang, saya awalnya penasaran dengan stasiun ini (walaupun sekarang sudah makin sering kesana).

Stasiun Benowo adalah stasiun dengan ketinggian 3 meter di atas permukaan laut, yang merupakan stasiun paling barat di Kota Surabaya. Stasiun ini berbatasan dengan Stasiun Cerme di barat dan Kandangan di sebelah timurnya. Di sini, saya menemukan tempat yang tenang, jauh dari hingar bingar Kota Surabaya di ujung sana, dingin, dan angin yang semilir membuat ngantuk siapapun yang berlama-lama di sini.

Stasiun Benowo menjelang sore hari
Saya sedikit berbincang dengan Kepala Stasiun Benowo yang ketika itu masih dijabat Pak Rizka Irawan (ketika tulisan ini ditulis, beliau sudah menjabat Kepala Stasiun Krian). Pembicaraan kami yang awalnya kaku dan formal menjadi ngalor-ngidul sejalan dengan waktu yang semakin sore. Mulai dari angkutan barang hingga suasana tenang di stasiun kecil tapi penting ini.

Sekedar informasi, keunikan Stasiun Benowo adalah selain jadi stasiun paling ujung di Kota Surabaya, stasiun ini adalah stasiun lengkung. Maksud stasiun lengkung di sini adalah stasiun ini emplasemennya berbentuk tikungan, bukan rel lurus seperti umumnya stasiun. Dan tentu saja kontur permukaan rel di sisi sebelah utara lebih tinggi dari sisi sebelah selatan, sehingga ketika kereta menikung akan terlihat seperti Motogp kalo saya boleh lebay, hehehe...

Persinyalan mekanik di Stasiun Benowo ketika itu...
Dalam beberapa jam saja saya sudah dapat merasakan keakraban personel stasiun kecil nan tenang ini. Ini pula yang membuat saya betah, bahkan sampai sekarang untuk sering berkunjung ke stasiun ini. Entah kenapa, sepertinya stasiun ini mampu membangkitkan memori masa lalu saya, sebuah alunan memoar tentang kereta api, yang saya dapatkan sejak kecil mampu menari-nari setiap saya membayangkan berada di sini. Ah, mungkin itu juga hanya ilusi. Yang jelas, perjalanan saya masih berlanjut dan tunggu saja updatenya di blog kecil ini. Salam satu rel! :D

Sisa peninggalan kereta api jaman lampau yang ketika itu masih digunakan
Stadion Gelora Bung Tomo nun jauh di sana, dipotret dari rangkaian KA kontainer yang berhenti di jalur 1
KA Harina melintas langsung di stasiun. Tampak beton proyek double track Surabaya-Jakarta 

Saturday, December 14, 2013

Revolusi Kereta Api Itu Juga Terasa di Penataraan 355...

Holaa, sudah lama nggak mampir di blog ini, sampai-sampai lupa untuk membuat posting pertama. Hehe, padahal materi traveling plus foto-foto yang menunggu giliran diunggah udah banyak sekali..

Hmm, kalo diitung-itung, sudah lama sekali gak naik kereta api kelas ekonomi. Terakhir naik tepatnya tanggal 6 Agustus 2012 kemarin - itupun masih dengan masa transisi revolusi yang terjadi di KAI. Saya masih bisa mbordes, masih bisa beli jajanan asongan pula, hehe.

Kemudian karena iseng, saya coba buat naik KA Dhoho Penataran, yah walaupun cuma buat balik ke Surabaya setelah 5 hari ditemani tugas kuliah yang numpuk (curhat), ini waktunya untuk balik Surabaya, merasakan kembali sensasi di KA Dhoho Penataran, setelah muncul primadona baru jalur Surabaya-Malang yaitu Penataran Ekspres dan Bima.



Tidak banyak berubah sih, menurutku. Kecuali lebih ketat dalam mengatur asongan dan ketertiban penumpang, jadwal pun masih agak amburadul. Yah, maklum pula sebanding dengan harganya juga lah ya :D

Berangkat dari Malang sudah telat 45 menit, dan sesuai dugaan saya, 355 dihajar silang oleh KA-KA lain yang meluncur ke Malang. Di Blimbing bersilang sesama Penataran (mungkin Penataran 367 atau 369), di Sukorejo bersilang KA Argo Ketel 1615, dan di Porong bersilang Penataran Ekspres 7114.

Namun, secara overall pelayanan cukup baik dibandingkan terakhir saya naik 2012 lalu. Termasuk soal kebersihan, sudah cukup bersih untuk ukuran KA Lokal yang kelasnya di bawah KA Ekonomi. Lalu, apa saya salah kalo memprediksi Ignatius Jonan, sang CEO PT KAI untuk jadi Menteri Perhubungan di kabinet yang akan datang? Hehehe...



Salam satu rel, salam sepur!

Tuesday, December 10, 2013

Stasiun Benteng yang Kini Telah (Banyak) Berubah...

Ceritanya karena kebanyakan ngelamun, saya malah jadi mengingat-ingat masa kecil saya yang begitu dekat dengan kereta api. Mulai dari kebiasaan ikut langsiran lokomotif (yang ketika itu loko perkasa macam BB200 ataupun BB300 masih banyak populasinya di Surabaya) hingga balapan sepeda dengan loko langsir macam D301. Ah, rasanya masa-masa itu begitu indah dan sulit terulang kembali.

Ingatan saya berpangkal di Stasiun Benteng. Stasiun yang dulu waktu jaman saya kecil sampai awal SMP jadi jujugan untuk nggandol alias ngambing langsiran KA tangki Pertamina. Stasiun yang menjadi tempat bermain saya selain Kalimas, yang cukup melegakan kaki setelah main bola sore kemudian untuk mencapai jalan raya tinggal menunggu langsiran KA Pertamina untuk numpang daripada jalan kaki.

Ketika itu, Stasiun Benteng begitu teduh. Ada pohon-pohon besar di kiri-kanan stasiunnya. Saya masih ingat bagaimana perkasanya loko BB200 maupun loko kecil BB300 yang menarik belasan gerbong tangki dari pangkalan Pertamina di kawasan Basis TNI AL menuju Stasiun Benteng untuk kemudian diangkut ke Malang atau Madiun dengan loko BB301.


Loko BB200 ketika masih dapat digunakan (Source: Wikipedia)
Loko BB300 terakhir yang masih dapat digunakan selain 1 biji lagi di Semarang Poncol. Loko ini mulai dinas pada tahun 1956 (Source: flickr Vandhoe76)

Hasil dari ingatan saya itulah yang membawa saya untuk menuju ke Stasiun Benteng, setelah belasan tahun tak lagi kesana. Saya benar-benar penasaran, apakah stasiun yang dulunya saya jadikan tempat main, tempat berlarian, dan tempat bersenang-senang di waktu kecil sejauh mana bentuk perubahannya...

Sebagai informasi, Stasiun Benteng adalah mantan stasiun besar di era kolonial dengan nama Stasiun Prins Hendrik. Dengan 10 emplasemen menjadikan stasiun ini menjadi stasiun jujugan para gementee alias pejabat kota yang memang waktu itu bermukim di sekitar Benteng. Selain itu juga menjadi jujugan para perwira angkatan laut Belanda untuk mengakhiri perjalanannya di sini. Dulu juga ada jalur tram yang memutar dan masuk ke kawasan PT PAL tapi entah sekarang tak diketahui rimbanya.

Saya tiba di Stasiun Benteng beberapa puluh menit sebelum matahari terbenam. Dan memang benar, banyak sekali perubahan yang terjadi. Stasiun yang dulunya teduh dan banyak pohon besar, kini terlihat agak panas. Lapangan tempat anak-anak kala itu leluasa berlarian mengejar lokomotif, bermain bola, dan bersepeda, kini menjadi depo kontainer milik Kalog.

Papan penanda wesel ke-23 masih utuh seperti dulu
Container yard di sudut jauh itu dulu adalah lapangan tempat anak-anak kecil menghabiskan waktunya di sore hari cerah
Dulu dari sudut ini kita bisa melihat gagahnya loko BB200 melangsir gerbong pupuk maupun tangki. Kini loko-loko itu sudah tak ada yang bisa dihidupkan kembali...

Stasiun Benteng memang sudah banyak berubah. Tak ada lagi anak-anak kecil yang dengan riangnya menaiki kereta untuk sekedar menumpang ke lapangan pasiran yang ada di dekat dipo Pertamina. Namun, jauh di antara perasaan rindu yang menggelayut di diri saya, saya harus katakan bahwa perubahan seperti ini perlu mengingat transformasi kereta api kita sedang menuju ke arah yang lebih baik.

Benteng menjelang senja hari...

Wednesday, October 2, 2013

Lost In Jogja (I) - I'm Alone and I'm F*ckin Lucky!

Hoho, saya baru inget lagi kalo punya blog traveling ini. Yah, daripada ngga keurus mending telat tapi tetep nulis kan? :D

Nah, kali ini yang berkecamuk di pikiran saya adalah kapan saya nulis tentang traveling gila ke Jogja, September 2013 lalu. Traveling gila, karena berangkat sampai pulang sendirian. Benar-benar sendiri, cuma satu orang. Dan itu asyik guys! :))

Ide buat traveling dimulai sejak kebiasaan joyride kereta api mulai muncul. Entah kenapa kemudian muncul ide gila itu. Traveling sendirian, dengan tanggal yang bisa dibilang dadakan, dan budget yang pas-pasan. Satu teman di Jogja sudah confirm mau jadi guide pula...

So? Tercopy sekaliiiii. Faktor pendukungnya banyak, mulai liburan yang kayak gak ada habisnya, sampai mulai bosan dengan interface game, akhirnya berangkatlah saya ke Jogja setelah sebelumnya pesan tiket Sancaka 73. Dan lagi-lagi beruntung dapat tiket murah, kereta bisnis seharga 110 ribu.

Jam 7 tepat, saya sudah ada di Stasiun Gubeng, tempat KA 73 berangkat. Karena juga nggak biasanya sepagi ini bangun, saya masih agak pillow-lag (kalo yang ini temennya jetlag). Sekaleng kopi dari minimarket mulai cukup bikin melek, sambil menunggu KA 73 datang, sekaligus sambil iseng potret-potret di stasiun.

Penumpang KA 73 menunggu datang kereta yang diberangkatkan dari Surabaya Kota
Dan beberapa saat kemudian, KA 73 datang dari arah utara. Diawali dengan lokomotif CC 2039802 milik Dipo YK, inilah KA yang akan saya naiki.

CC 2039802 feat KA Sancaka Pagi 73 SGU-YK
Para penumpang yang dari tadi nunggu (malah ada yang menunggu sejak KA Mutiara Timur 78 dari Denpasar datang) mulai naik satu per satu. Saya sih nyantai aja, karena sudah terbiasa naik kereta. Dan waktu saya naik kereta dan mulai mencocokkan nomor kursi yang saya punya ternyata.....

Voila! Kursi tempat duduk saya sudah didiami diduduki wanita muda cantik berkerudung. Jaga imej dulu, saya cari tempat duduk lain yang masih kosong. Kereta mulai berangkat, perlahan-lahan tulisan Surabaya Gubeng berjalan ke arah belakang kereta. Maaf gak ada foto cewenya ya, walaupun itu juga masuk POI di tulisan ini, tapi maklum lah ya :)))))

Kereta mulai ramai ketika berhenti di Mojokerto, kemudian bertambah ramai setelah berhenti normal di Jombang dan Nganjuk. Namun, di sini saya dapat lucky lagi. Ternyata sejak tadi KA 73 selalu tepat waktu berhenti di stasiun tujuan. Bahkan waktu berhenti di Jombang KA 73 lebih cepat 8 menit dari jadwal awal. Dari sini pikiran melayang, kayaknya kereta ini bakal lebih cepat dari jadwal *grin*

KA 73 berhenti normal di Jombang, dari jalur sebelah selatan (kanan foto) berhenti KA Dhoho 355 tujuan Kediri
Yak, dan benar saja. Sejak sampai Madiun, KA 73 sudah melampaui waktu tempuh normal. Kalo dikira-kira, top speed KA 73 yang saya naiki ini ada di petak Nganjuk-Madiun. Bisa lebih dari 100 km/jam kecepatannya. Tapi kemujuran demi kemujuran saya kayaknya nggak seberapa awet. Mata yang sudah ngantuk tak bisa tidur karena banyak anak kecil yang main-main di dalam kereta. Yah, biar ajalah, itung-itung pahala, hehe...

Setelah 4,5 jam perjalanan, toh akhirnya KA 73 sampai Stasiun Yogyakarta dengan selamat, dan dengan waktu lebih cepat 26 menit dari jadwal awal yang seharusnya sampai jam 12:52. But, i'm feeling lucky! With paid only 110K, my train can ran faster than its schedule. Mana dapet pin BBM cewe berkerudung yang duduk di sebelah pula (kalo yang ini konsumsi pribadi vroohhh)...  (Bersambung)