Showing posts with label culture. Show all posts
Showing posts with label culture. Show all posts

Tuesday, March 3, 2015

Stasiun Mesigit, Tersembunyi Kumuh dari Hingar Bingar Kota

Siang hari cerah itu, entah kenapa saya mendadak teringat kenangan masa kecil; sebuah kenangan yang mungkin tak akan terulang kembali saat ini. Romantisme saya dan kereta api, yang sudah sejak kecil melekat di diri saya. Terpatri begitu kuat hingga sekarang - yang menjadikan saya betah berjam-jam browsing dan melihat masa jaya kereta api berpuluh tahun lalu. (Oh, thanks google! You make me remember it all!).

Saya mendadak tertarik dengan sebuah tempat dalam browsingan saya. Tempat yang sebetulnya enggak jauh-jauh amat dari rumah saya, sama-sama di Surabaya, tapi bahkan mungkin banyak yang belum tahu: Stasiun Mesigit.

Ya, Stasiun Mesigit. Siapa sangka Surabaya punya stasiun tersembunyi seperti Mesigit. Siapa sangka bahwa di tengah pemukiman kumuh daerah Dupak, Surabaya - yang mayoritas dihuni secara berhimpit-himpitan - terdapat stasiun yang tugasnya penting: untuk mengontrol dan mengatur jalur dari tiga persimpangan stasiun besar: Surabaya Pasarturi, Surabaya Kota, dan Sidotopo yang saling bertemu di sebuah lokasi yang dinamakan Segitiga Mesigit.


Stasiun Mesigit (MST) di era Kolonial Belanda, tampak dulunya adalah sebuah stasiun kelas II (Sumber foto tertulis - Universitas Leiden Belanda)

Stasiun Mesigit dulu juga melayani pemberhentian penumpang, lain kali akan saya tunjukkan bekas karcis kereta dengan tujuan Kalimas-Gresikkota. Stasiun yang berkode MST ini dulunya merupakan stasiun pulau dimana bangunan stasiun berada di tengah-tengah jalur rel. Ke arah selatan adalah jalur milik maskapai NIS (Nederlands Indische Spoorweg), sedangkan ke arah utara dan timur adalah jalur menuju Kalimas dan Surabaya Kota/Sidotopo milik maskapai Staatsspoorwegen (SS). Tidak jelas bagaimana pengaturan jalur dari Stasiun Mesigit ketika itu karena saya sejauh ini tidak menemukan data otentik bagaimana dua maskapai dapat disatukan dalam satu stasiun.

Berdasarkan data yang saya peroleh, ternyata emplasemen Stasiun Mesigit masa itu cukup lebar dengan 4 jalur. Kereta api yang melintas umumnya kereta api barang dengan tujuan akhir Pelabuhan Tanjung Perak via Kalimas berupa angkutan minyak, pupuk, dan logistik. Ini cukup dimaklumi karena ketika itu jalur menuju pelabuhan banyak sekali dan tiap maskapai kapal dan perusahaan pelabuhan punya rel sendiri.

Saya berkesempatan mengunjungi stasiun ini di pertengahan 2014 bersama sesama pecinta kereta api. Sebelumnya, saya memang sudah memperoleh gambaran bahwa keadaan di stasiun ini sudah mengenaskan dimana bangunan utamanya sudah menjadi rumah penduduk dan stasiun baru dibangun di sisi selatan bangunan asli Stasiun Mesigit.


Rel masuk Stasiun Mesigit dari arah Surabaya Pasarturi (Sumber foto: Istimewa)

Sebenernya untuk masuk kesana butuh kesabaran dan kehati-hatian ekstra mengingat lokasi stasiun ini ada di pemukiman kumuh dan kawasan 'merah' Kota Surabaya. Bahkan ketika kami memotret beberapa sisi stasiun ini, banyak mata memandang sinis dan tak bersahabat. Untunglah kami diijinkan masuk oleh PPKA Stasiun yang baik hati.

Kedatangan Kereta Api dari Surabaya Pasarturi ke Kalimas

Saat ini, Stasiun Mesigit hanya melayani persilangan KA dan mengontrol rute jalur masuk-keluar KA yang menuju ke Kalimas, Surabaya Pasarturi, dan Surabaya Kota/Sidotopo. Pos pengontrolan juga dibangun di Segitiga Mesigit yang ada sebelum viaduk Tugu Pahlawan dari arah Surabaya Kota (di samping Gedung Kantor Gubernur Jatim).

Sinyal keluar dan jalur 2 (jalur belok) Stasiun Mesigit. Kumuh memang, karena lokasi ini adalah lokasi 'merah' di Surabaya. Nantinya rel arah lurus ini akan menuju Stasiun Pasarturi dengan membelah Pusat Grosir Surabaya melalui terowongan

Papan nama stasiun ini pun cukup kecil dan hampir tak terlihat - yang membuat orang sukar untuk mencari. Tetapi, bangunan stasiun masih asli walaupun tak terpakai. Namun sayang foto di saya masih belum ketemu, nanti kalo udah saya edit post deh :))

Pesan saya sih kalo mau mengunjungi stasiun ini, jangan memakai atau menggunakan benda-benda yang mencolok, karena bahkan masinis pun jika berhenti di sini masih khawatir tentang keamanannya. Pastikan selalu safe visit dan safe hunting bagi yang mau mengabadikan momen di sini ya..

Saturday, April 12, 2014

Nasi Gandul Pati yang Tidak Akan Ditemukan di Tempat Lain...

Perut saya merasa lapar ketika saya harus melewati jalan panjang antara Semarang dan Surabaya. Yup, nyetir via Pantura bakal jadi pengalaman kuliner menyenangkan bagi sebagian orang. Bagi saya, beberapa tempat yang menyediakan makanan lezat sudah terbayang di sekitar Pantura, yaitu Lasem, Rembang, dan Pati.

Saya sengaja menjadwalkan untuk makan malam, menginap, dan sarapan di Pati. Sebuah balada bagi pengendara di Jalur Pantura, jalur yang dibangun oleh Daendels pada masa kolonial Belanda dengan nama De Grate Postweg, adalah beristirahat di SPBU sehingga SPBU di pantura selalu punya ciri khas sebagai tempat transit. Keunikan lain di Pantura ialah SPBU yang berlomba-lomba agar toiletnya bersih mengingat banyaknya orang yang akan berhenti di salah satu dari mereka.

Saya baru menginjak Rembang sekitar pukul 11 malam dan merasakan perut mulai keroncongan. Karena sudah menjadwalkan untuk makan malam di Pati, bergegaslah saya untuk sampai ke Pati. Ketika terlintas makan malam di Pati, maka hanya ada satu rekomendasi: nasi gandul!

Ada beberapa nasi gandul lezat di Kota Pati, yang jadi jujugan saya tiap ke kota kecil yang asri ini adalah Nasi Gandul Pak Bayan yang berlokasi di dekat pasar. Nasi gandul ini adalah semacam sup daging, dengan kuah yang manis, dan kita dapat menambah lauk berupa daging, perkedel, dan lain-lain sesuai selera. And then, kalo kurang pedas juga bisa ditambah sambal. Sebenarnya selain Pak Bayan ada juga Nasi Gandul Mak Ijah yang berlokasi di dekat Alun-Alun Pati. Tetapi entah saya yang salah waktu kesana (saya tiba di Pati sesaat setelah hujan mendera), atau memang lagi nggak jual, saya tak menemukan Nasi Gandul Mak Ijah yang secara geografis lebih dekat dari Jalur Pantura.

Nasi gandul Pak Bayan yang selalu ramai bahkan hingga larut malam

Yang unik, nasi gandul yang hanya akan kita temukan di Pati ini dimakan di atas pincuk (piring dari daun pisang), dengan sendok dari daun pisang pula. Tapi ada kok sendok benerannya untuk yang gak bisa makan pake sendok daun pisang, hehe...

Harganya? Yang jelas bervariasi tergantung lauk yang ditambahkan. Rata-rata nasi gandul di Pati berkisar antara 15-25 ribu rupiah. Dan kuliner macam ini tak akan kita temukan di tempat lain dengan suasana yang sama, suasana khas kota kecil di pesisir pantai utara Jawa, yang melantunkan nostalgia kejayaan masa lampau, dengan ditemani semilir angin laut yang pastinya membuat betah orang untuk berlama-lama di sini...

Saya benar-benar terpesona dan selalu terpesona dengan hawa pantura, jauh dari hingar bingar kota besar. Dan siapa sangka di kota kecil semacam ini justru kita lebih banyak menemukan pengalaman baru? Pengalaman kuliner dan traveling yang menyenangkan walaupun hanya sekedar transit :D

Saturday, March 1, 2014

Berburu Peninggalan Belanda di Sidotopo

Hai, akhirnya saya nulis lagi hehe. Ada satu hal yang menggelitik telinga saya bahwa seorang teman berhasil menemukan beberapa footage langka jaman Belanda di sekitaran Sidotopo. Saya yang awalnya skeptis, yang menganggap bahwa memang lokasi stasiun dan dipo Sidotopo itu adalah awalnya memang bangunan eks Belanda menjadi tertantang untuk menemukan hal yang lain, yang saya rasa tidak semua orang ngeh kalo itu barang langka.

Berbekal kamera seadanya, sore itu berangkatlah saya ke stasiun terbesar se-Jawa Timur (atau bahkan se-Indonesia) itu. Kalo lihat gerbong bekas ditumpuk atau rel yang bertuliskan tahun 1800-an sih sudah sering. Hari itu saya benar-benar bertekad untuk menemukan sesuatu yang lain, yang bisa saya share juga hehe...

Tetapi ketika akan mencari parkir, saya tergerak dan tertarik dengan beberapa loko BB301 yang mangkrak (sepertinya menunggu untuk di-besituakan). Bukan apa-apa sih, kok sepertinya tertarik aja, entah intuisi saya yang tiba-tiba naik, atau apalah, yang jelas loko-loko BB301 yang dipajang di sana memang kebanyakan eks PLH alias kecelakaan hebat, yang menyebabkan loko-loko itu tidak dapat dipakai lagi.

Tersembunyi di rerumputan, lok BB30121 ini pernah mengalami kecelakaan hebat di Sengon beberapa tahun silam yang menyebabkan masinisnya meninggal dunia
Bagi sebagian orang mungkin lumayan ngeri, tapi saya penasaran. Bagi saya, lok-lok mati itu menatap kosong, seakan menunggu waktunya dipreteli untuk kemudian besinya dijual terpisah. Yah, itulah kebijakan perusahaan yang terkadang bagi orang awam seperti saya, hal ini dianggap salah. Atau mungkin malah sebaliknya...

Tak butuh waktu lama saya berburu peninggalan Belanda yang saya cari-cari. Setelah puas (sebenernya belom) melihat-lihat loko-loko mati yang sudah tak berdaya itu, mata saya tertuju pada sebuah lampu kuno di sebelah masjid dipo stasiun. Lampu yang tidak pada jamannya karena secara bentuk terlihat lampu seperti jaman pertengahan. Dan ketika saya mengamati sejengkal demi sejengkal lampu tersebut....

Dari tulisan yang ada di bawah tiang lampu, sudah sangat jelas ini lampu buatan eropa :D
Voila! Nama orang eropa, entah Belanda entah Jerman, yang jelas nama-namanya rumpun Jerman. Tetapi setelah saya googling, saya menemukan bahwa pembuatnya adalah Lion Israel Enthoven! Sebuah perusahaan kaya abad pertengahan, yang produknya adalah jembatan, jaringan rel kereta api, penutup lobang got. Oleh Pemerintah Hindia Belanda, L I Enthoven disewa untuk membuat lampu penerangan berbasis gas di seluruh wilayah kota Batavia dan Surabaya pada akhir 1890-an.

Bukan hanya itu, ternyata Enthoven ini juga tahun 1867 mengambil bagian dalam Pameran Produk Dunia di Paris dan mengandalkan sebuah produk mimbar yang terbuat dari baja. Mimbar itu sekarang disimpan dan dalam kepemilikan Rijksmuseum di Deventer, Belanda.

Luar biasa, tapi sayang tiang lampu (yang mungkin sudah langka di dunia) itu terkesan dibiarkan dan tak terawat. Itulah mengapa saya tak mengambil foto lampu secara utuh, sebagai langkah preventif agar tangan-tangan jahil tidak mengotak-atik benda bersejarah tinggi ini.

Saya pulang dengan segudang pemikiran di kepala saya, jika tiang lampu seperti itu (berbahan bakar gas) mampu menerangi sudut-sudut Kota Surabaya di masa itu, betapa cozzy-nya Surabaya di masa pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi ah, masa bodoh. Matahari sudah condong jauh ke arah barat, saatnya pulang!

Sunday, February 2, 2014

Warga Jepara, Saya Menyebutnya Pantai Pasir Halus!

Dalam perjalanan pulang dari Karimunjawa yang gagal, saya iseng untuk eksplor di Kabupaten Jepara. Itung-itung untuk menambal rasa dongkol lah gara-gara plan dadakan ke Karimunjawa harus berantakan hanya karena Karimunjawa lagi ombak besar dan pasca banjir yang melanda Jepara, Pati , Kudus, dan sekitarnya awal 2014 silam.

Perjalanan berangkat memang dibumbui sedikit banyak kisah pilu. Bayangkan, bila beberapa waktu lalu jika kita melewati jalur pantura Rembang-Pati dengan banyak keceriaan yang bisa kita temukan di kiri-kanan jalan, ketika itu hampir tak berbekas. Bulak-bulak padi dan tebu yang biasanya dengan mudah kita temukan, hamparan tambak garam maupun ikan milik petani tambak di Rembang-Juana yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan Pantura, mendadak hilang. Yang tersisa adalah sebidang jalan aspal yang rata, yang di sekelilingnya dipenuhi tanaman busuk, baik padi, tebu, pisang atau semacamnya. Jalan aspal yang dahulunya di kiri kanan jalan terhampar pemandangan hijau, berubah menjadi air keruh sisa banjir besar awal tahun 2014.

Bukan berhenti di Pantura, ketika berbelok menuju wilayah Tayu di Jepara pun menjelang jembatan sungai yang bermuara di Gunung Muria itu, terhampar dengan jelas tanaman yang membusuk sisa banjir. Selain banjir juga cuaca buruk yang sewaktu-waktu mengancam dengan angin dan ombak besar di laut utara Pulau Jawa.

Itulah yang mendasari saya untuk eksplor di Jepara lebih jauh. Mungkin saja ada yang masih 'selamat' dari musibah besar itu. Setelah bertanya kesana kemari dan browsing di internet, akhirnya saya menemukan suatu pantai yang cukup 'terasing' di wilayah Jepara bagian utara.

Voila! Jalan makadam menuju ke pantai yang bahkan tanpa nama :))
Dari tukang becak dan tukang angkat pengusaha mebel di pelosok Jepara bagian Utara, saya bersama 2 teman saya yang memang saya ajak dari Surabaya akhirnya berjalan kaki menuju ke kawasan pantai tersebut. Pantai inilah satu dari sedikit pantai yang terselamatkan dari musibah banjir besar dan ombak besar yang terjadi beberapa waktu lalu, menurut warga Jepara. Dan untuk nama pantai ini sendiri pun banyak yang masih meragukan, apakah namanya Pantai Utara, Pantai Muria, atau Pantai Macan. Yang jelas saya bakal menyebut sebagai pantai-yang-tak-ada-namanya, hehehe...

Perjalanan ke pantai ini pun walaupun agak jauh (namanya juga jalan kaki keleeeus), kami disuguhi pemandangan hamparan sawah yang mulai mencoba move on  ditanami kembali, perkampungan pelosok Jepara, anak-anak kecil yang menguntit kami dengan riang, dan tentu saja senyum khas masyarakat Jawa Tengah. Benar-benar mengobati kekecewaan kami tentang Karimunjawa. Tapi, masa bodoh lah! We're just started the new exploration.

Sebagai informasi, pantai ini lokasinya ada di pucuk pulau Jawa di bagian utara. Tanah Jawa paling pucuk di Kabupaten Jepara. Maka dari itu tak heran kalau masih banyak warganya yang jadi pengusaha kayu, yang kebanyakan digunakan sebagai mebel.

Tanah berpasir putih! Tanda pantai sudah dekat..
Dari jalan yang juga berkontur perbukitan itu, kami menemukan tumbuhan nanas berjejer rapi. Tampaknya tempat ini telah dimanfaatkan penduduk sekitar untuk berkebun nanas. Dan apa yang terjadi? Tanahnya berpasir pantai! Voila, pasti sudah dekat pantai. Tetapi kami belum juga mendengar suara ombak ataupun 'bau' pantai.

Membelah tanaman nanas berjejer, jalan yang harus dilalui masuk di antara rimbunnya tanaman nanas. Note: Abaikan orang yang ada di foto!!!
Perjalanan selanjutnya adalah membelah kebun nanas dan rimbunnya dedaunan nanas plus tanaman yang lain yang ada di lokasi itu. Sebuah pekerjaan konyol hanya untuk pantai, tapi yah inilah traveling!

Setelah sekitar 10 menit bergelut dengan nanas dan masih ditemani anak-anak kecil yang berlarian di sekeliling saya yang juga dapat saya jadikan teman ngobrol sekaligus guide, akhirnya...

Pantaaaaaaaai ! Bonus cewe 2 orang, entah warga sekitar, entah apapun, bodo amat!
Pantaaaai ! Benar kata orang-orang yang telah kami tanya tadi. Pantai ini seperti yak kena imbas musibah waktu lalu. Pantainya juga masih putih, lautnya juga masih biru dan jernih.

Pasir lembut ini serasa mengajak kaki saya untuk berlarian di tengah pantai
Kontur pasirnya tipis tetapi tidak tajam. Mungkin hampir sama dengan kontur pasir di Pantai Balekambang Malang ataupun Pantai Goa Cina Malang, tetapi lebih halus ini. Kalo boleh usul nama sih, pantai ini diberi nama Pantai Pasir Halus aja biar lebih menjual dan tertancap di benak orang untuk merasakan pasirnya. Kalo dalam ilmu marketing, diferensiasinya dapet, taglinenya dapet pula, hehehe..

Anak-anak kecil sekitar pantai yang selalu mengikuti kami. Entahlah, semoga kalian sukses! :)
Menikmati sunset sore di pantai, sungguh suatu hal yang mengasyikkan
Di belakang saya adalah bekas bangunan, gak jelas juga bangunan apa, mungkin mau dibangun resort
Kata orang: nyantai kayak di pantai :D

Sunday, October 6, 2013

Lost In Jogja (V-Habis) - Malioboro Perlahan Menjauhi Saya dan Terus Mengecil...

Ini adalah hari terakhir dimana saya harus mengakhiri perjalanan saya di Jogja. Sebuah tempat dimana saya bisa merasakan ketenangan, sebuah alunan memori yang terngiang di kepala, dan benar kata orang, bahkan sebelum saya pulang pun, pikiran saya sudah nyeletuk, "kapan balik ke Jogja?"

Sebenarnya saya masih ingin eksplor sisi lain di Jogja lebih jauh lagi. Ah, tapi sayang, kereta saya berangkat siang hari. Jadilah saya hari itu dengan berat hati meninggalkan kota yang sebenernya saya sendiri pun mulai kerasan di sini.

Setelah checkout dari hotel tempat saya menginap, pagi itu berangkatlah saya ke Stasiun Yogyakarta untuk bersiap balik ke Surabaya. Berbekal oleh-oleh materi tulisan, foto, dan tentu saja makanan dan beberapa pernak-pernik dari Jogja, saya mengakhiri liburan saya yang unik ini. Ke Jogja, sendirian. Benar-benar sendiri, dan beruntung pula!

Keramahan mentari Stasiun Yogyakarta pagi itu...

Dasar iseng, sambil menunggu kereta datang saya masih asyik memotret sambil tangan mencomot camilan. Bahkan di tempat executive lounge di stasiun pun, saya masih merasa nyaman sambil berat meninggalkan Jogja. Entah kenapa sisi magisnya bermain sangat kental di sini...

Loko langsir Stasiun Yogyakarta, deket Balai Yasa, sih.. Makanya putih bersih :D
Kosong di tengah keramaian stasiun...

Beberapa saat kemudian, kereta yang akan saya tumpangi datang. Saya datar saja melangkah menuju seat tempat duduk saya. Setelah menunggu beberapa menit, petugas stasiun membunyikan peluit dan masinis membunyikan klakson lokomotif. Perlahan bangunan stasiun bergerak menjauhi saya. Malioboro tempat saya bermain malam itupun juga bergerak, perlahan terus mengecil, mengecil, dan tertutup oleh tulisan Yogyakarta. Selamat tinggal Jogja, selamat tinggal istimewanya.. Ah, suatu saat saya akan kesini lagi!

Saturday, October 5, 2013

Lost In Jogja (IV) - Finally Beaaaaaaaaach !

Jam menunjukkan pukul 6 pagi lebih ketika saya bangun dan menghirup udara pagi Yogyakarta yang berkabut tipis pagi itu. Jogja yang mempunyai ketinggian di atas 100 meter dari permukaan laut pagi harinya cukup untuk memunculkan sebuah kabut tipis yang membentang dari titik cakrawala nun jauh di sana, yang terlihat jelas dari kamar saya yang berlantai 3.

Kicauan burung menggema ketika saya buka jendela kamar. Ditemani lengkingan suara klakson langsiran lokomotif di stasiun Tugu, dengan alun suara khas stasiun. Damai. Membuat saya benar-benar tak ingin melewatkan kesempatan untuk merasakan hangatnya pagi itu dari sudut lantai 3 kamar yang saya tiduri.

Setelah puas menikmati pagi Kota Jogja, saya baru ingat bahwa hari ini berdasarkan rundown jadwal yang saya buat kemarin, saya hari ini harus mencicipi pantai di Jogja. Bosan dengan Parangtritis, saya ingin pantai yang belum terjamah banyak tangan manusia. Pantai yang benar-benar masih perawan dan yang tentu saja akses yang bisa dibilang tidak mudah.

Pilihan saya jatuh ke pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Berbekal kondisi nekat dan (lagi-lagi) minim informasi, berangkatlah saya berdua dengan teman saya ke daerah Gunung Kidul. Benar-benar berdua, naik motor, dan awam kondisi jogja. Nah!


MEMBELAH JALANAN - Ditemani langit biru, kami berburu momen mengasyikkan melewati bagian selatan Yogya
Perjalanan yang semula landai menjadi naik turun, bahkan kami tak sekali dua kali harus beradu skill menyalip dan mengalah dengan truk atau bus pariwisata, bahkan sesama pengguna motor. Selepas Bukit Bintang Jogjakarta, jalanan makin gila aja, saya sampai beberapa kali mengalah ke space yang sempit di jalanan berkelok hanya karena ada truk saling salip. Whoooaaaaaa ! Ini seru, pikir saya.

Motor terus melaju hingga daerah Gunung Kidul, tempat di mana surga-surga itu tercecer. Setelah saya mengikuti panduan dari papan yang ada di pinggir jalan dan juga GPS (Ini beneran, cuma modal dua hal itu!), akhirnya saya menemukan papan petunjuk di jalan bahwa lokasi pantai tinggal sedikit lagi. Terus berjalan, dan terus melaju, daaaaaaan.....

Finnally beaaaaaaaaaach ! Saya agak bingung juga ada banyak pantai yang disediakan. Tapi dasar clintisan kalo kata orang Jawa, saya tergerak untuk menelusuri satu demi satu hingga tak ada lagi yang tersisa. This is just little piece of heaven, but it was awesomeeee !

Ini pantai beneran, bukan fiksi XD
Candid session dulu gaeeees :))
Batu-batu yang berserakan alami menambah eksotisme pantai ini
Dan ternyata benar-benar istimewa! Pantai berpasir putih yang terpahat halus, serta batu-batu yang seolah bertumpukan dan berserakan seakan menambah keindahan pantai-pantai di kawasan Gn Kidul. Memang tipikal pantai selatan Jawa yang bukan pantai landai, sih. Tapi menurut saya ini luar biasa. Saya sering mengunjungi pantai selatan Malang (tulisannya nyusul ya :D), tapi eksotisme pantai selatan Jogja saya rasa dapat disandingkan dengan pantai-pantai lain di Indonesia yang cukup terkenal.

Bukan hanya itu, beberapa fasilitas juga sudah dibangun di pantai yang sudah mendapatkan dana perawatan dari pemerintah kesultanan Jogja. Bukti bahwa sektor wisata pantai sudah mulai dilirik sebagian wisatawan. Namun, saya lebih suka pantai yang alami, pantai yang jauh dari hingar bingar, dan suasana pantai yang tenang, teduh, damai, dan nyaman...

Di lokasi yang lain bahkan air lautnya sampai tergradasi dengan indah seperti ini
Beberapa fasilitas pantai Indrayanti yang lumayan kesohor itu...
Pantai Sepanjang, Jogjakarta ini satu deretan dengan pantai-pantai eksotis yang hanya ditemukan di Gunungkidul
Kehidupan nelayan di Pantai Drini pun juga sangat memanjakan lensa kamera Anda

Friday, October 4, 2013

Lost In Jogja (III) - Alunan Memori Melodi Malioboro

Malam pun tiba, sejenak saya malah punya pikiran untuk ke Malioboro. Biasanya kalo ke Malioboro kan selalu rombongan, paling tidak saya malam ini harus bisa kesana walaupun cuma sendirian.

Setelah makan malam di warung Sop Ayam Pak Min Klaten yang legendaris itu, pergilah saya sendirian ke Malioboro. Kali ini situasinya begitu terasa. Alone in Malioboro... Hmm, lebih tepatnya Lost In Malioboro kali ya. Tapi siapa sangka saya malah punya pengalaman baru di sini. Pengalaman yang tentunya akan sulit untuk hilang di benak saya. Bercengkrama dengan para pedagang di Malioboro, ditawari kopi dalam keramahan masyarakat Jogja, dan bahkan ikut mencoba jadi kusir - dengan keramahan pak kusir delman di Malioboro tentunya.

Malioboro in the late-evening
Saya mencoba berjalan lagi, mengeksplor seluruh Malioboro sampai puas, sesuai tekad saya ketika memutuskan traveling sendirian. Dan apa yang terjadi.... Ternyata ketemu teman lama yang kebetulan berada di Jogja. Karena hobi sama-sama traveling dan dia tidak keberatan ketika saya bilang mau eksplor seluruh Malioboro, jadilah kemudian malah eksplor bareng.
Malioboro dalam lingkup keramahan Jogja menjelang tengah malam. Banyak orbs? Dilarang protes!
Hari menjelang tengah malam ketika saya merasa mulai butuh istirahat. Karena lokasi hotel saya yang lumayan dekat dari Malioboro dan teman saya yang langsung balik ke stasiun untuk menunggu KA Bima arah Surabaya, saya memutuskan mengakhiri eksplorasi ini. Banyak yang saya dapat, banyak pengalaman baru, banyak hal-hal baru yang saya temui. Mulai bertukar cerita dengan para pedagang sampai ikut mencoba nyetir delman, bagi saya ini seru! Dan sumpah saya bukan kampanye, bukan blusukan, dan bukan menyamar loh :)))

Saya baru bisa beranjak dari menikmati keramahan dan kehangatan Malioboro ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi. Bahkan di jam-jam menjelang subuh itupun, Malioboro tetap ramai, mengalunkan sebuah memori melodi, yang membuat siapapun betah berlama-lama di sana, tanpa merasa sendiri walaupun sendirian. Malioboro tetap hangat dan berpijak di sana serasa kita berada di sebuah cabang dunia, yang terpisah jauh dari sifat masyarakat urban, dengan ditemani suasana yang tak akan terbeli dimanapun...

Bahkan menjelang subuh pun, Jogja dan Malioboro tetap ramai! :)

Thursday, October 3, 2013

Lost In Jogja (II) - Kemegahan Keraton Ngayogyakarta di Masa Silam...

Sampai di hotel, atau lebih tepatnya penginapan atau apalah. Maklum, waktu itu masih musim liburan kuliah dan weekend. Wajar kalo dapat penginapan harga 150 ribu (walaupun secara overall pelayanan dan room-nya keren juga). Saya sudah 1 jam nunggu teman yang merangkap guide saya buat datang ke kamar, kemudian tidur saking lamanya nunggu.

Jam 1 siang, datanglah sesosok makhluk yang rencananya bakal nemenin saya selama 3 hari di Jogja. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Tanpa pikir panjang langsung tancap gas, gak tau kemana yang akan dituju. Akhirnya hari pertama diputuskan untuk mencoba kuliner, sambil malamnya dinner di Sayidan, lalu ngopi di angkringan dengan kawan lama saya dari Palangkaraya yang kebetulan juga ada di Jogja beserta teman lama juga yang jadi admin akun twitter fenomenal di Indonesia.

Besoknya, entah kenapa kok saya jadi pengen ke Tamansari setelah browsing berjam-jam. Okay, that's the choice! We've to go there!

THIS IS TAMANSARI
Menurut pengetahuan yang saya dapat dari internet, tamansari dulunya adalah pemandian raja-raja keraton Ngayogyakarta bersama permaisuri dan para selir. Ekspresi pertama saya ketika kesana adalah ini tempat asli keren! Dasar traveler, saya mulai explore seluruh sudut Tamansari, itu mengingatkan saya di adegan di film Java Heat waktu Sultan tertembak di sebuah lorong. Akhirnya kutemukan lokasi syuting salah satu adegan film itu di Jogja.

Namun sayang, keindahan Tamansari ternyata banyak dihancurkan oleh tangan-tangan jahil. Saya sempat motret juga sih yang menurut saya agak konyol sekaligus miris lihat vandalisme seperti ini :(

Pada pede dikasih tagline singkatan, emang kalo putus masih berlaku tuh? :))
Saya kembali mengeksplore bersama guide fenomenal saya, yang gak habis-habisnya bercerita. Maksudnya bercerita sama pacarnya lewat chatting BBM sampai temennya dicuekin *duh!*. Menelusuri sudut demi sudut, mulai dari pintu 5 arah mata angin sampai di lokasi yang dipake orang pacaran. Dan kayaknya saya salah arah kalo kesini...

Dulu, permaisuri mandinya di sini...

From the other side...
Kali aja ada yang lagi mandi beneran :p
Tapi, voila! Saya juga menemukan tempat yang dipakai video klip salah satu band. Lokasinya agak ke dalam area Tamansari, sepertinya runtuh terkena gempa jogja 2006 lalu. Tapi overall, situs Tamansari ini wajib dikunjungi tanpa vandalisme. Di sini kita bisa melihat kemegahan Keraton Ngayogyakarta di masa silam...

Reruntuhan yang mungkin sisa gempa jogja 2006 yang lalu